Mendengarkan orang yang sedang berbicara tuh merupakan seni, hehe. Soalnya namanya mendengarkan supaya lawan bicara kita merasa nyaman berbicara dengan kita itu merupakan prestasi dalam hidup. Kenapa? Karena ketika seseorang udah merasa nyaman untuk berbicara dengan kita, maka yang akan terjadi selanjutnya adalah rasa saling menjaga dan menghormati. Dengan menjadi pendengar yang baik, maka orang akan memberikan apresiasi yang jauh lebih baik lagi kepada kita. Sehingga tidak jarang orang yang pandai dalam mendengarkan mempunyai banyak kenalan/koneksi, bahkan sebagian besar diantaranya meraih kesuksesan dengan sangat cepat dan mudah lantaran banyaknya kolega yang merasa dirinya dihormati melalui sebuah komunikasi atau perbicangan.
Disini saya mau bagi-bagi pengetahuan saya yang sedikit kepada para pembaca semuanya tentang dasar-dasar menjadi pendengar yang baik.
Cekidot!
Ok gan, jadi dalam suatu komunikasi, ada beberapa hal yang harus dihadirkan/dilibatkan di dalamnya. Apa aja? Oke, perhatikan poin-poin ini :
- Wajah
- Sikap tubuh
- Mata lembut dan hangat
- Rileks
Nah, maksud dari wajah adalah ya kita dalam berkomunikasi atau berinteraksi (ngobrol) ya tentu harus melibatkan wajah. Tapi wajah disini bukan berarti “wajah” dalam artian muka. Tapi, wajah yang dimaksud adalah wajah dengan mimik, air muka dan ekspresi yang sesuai.
Sikap tubuh, dalam berkomunikasi dengan orang lain, yang menjadikan pembicaraan itu menarik adalah bahasa tubuh/sikap tubuh/yang lebih dikenal dengan gesture. Kenapa harus ini? Karena ada beberapa pesan yang akan menjadi sangat berarti jika dibarengi dengan gerak tubuh yang mengimbangi penyampaian pesan tersebut. Contoh misalnya nih, ketika orang lagi ngobrol sesuatu yang sangat menyenangkan, setiap beberapa menit kita mengangguk sambil tersenyum mendengar apa yang dia bicarakan. Kalo udah begitu maka akan hidup suasana asik dan nyaman yang akan menguntungkan si pembicara dan pendengar. Jadi bisa dibilang bahasa tubuh itu bisa disamain sama slogannya L.A. Mild : “Bikin hidup, lebih hidup!”.
Mata lembut dan hangat ya so pasti dong. Gabisa namanya berkomunikasi sama orang lain dengan menggunakan mata yang tajam dan terkesan dingin atau bahkan marah (tapi untuk beberapa situasi menggunakan mata jenis ini malah menjadi sesuatu yang efektif). Berikan kehangatan kepada lawan bicara kita sehingga mereka merasa nyaman dengan kita. Kalo sudah begitu, maka isi dari interaksi kita akan bermanfaat semuanya.
Rileks, gausah tegang. Yang ada itu hanya bersikap sopan, ga urakan. Tapi semuanya harus tetap santai. Meskipun ngomong sama atasan yang notabenenya orang keras. Tetap harus rileks, tetapi sopan dan hormat. Bukannya tegang.
Nah diatas itu sih bukan inti, tapi daftar ‘mereka-mereka’ yang harus hadir dalam sebuah interaksi ya bro.
Intinya, eng ing eng :
Sedangkan untuk menjadi pendengar yang baik itu dibutuhkan beberapa kemampuan dasar yang udah harus berjalan otomatis ketika kita menjadi seorang pendengar didalam sebuah interaksi.
Ketika menjadi seorang pendengar, apa berarti kita harus ngedengerin melulu tanpa melakukan tindakan apapun? Wowowow, salah besar. Justru kita harus bisa berkomunikasi balik ke lawan bicara kita.
Lo kok? Bukannya kalo orang ngomong trus kita ikutan ngomong malah jadi gasopan?
Bukan begitu kang maksudnya, hehe. Maksudnya begini.
Jadi kalo orang lagi mengutarakan idenya ke kita/komunikasi ke kita, ya kita harus bisa memberikan komunikasi balik ke dia. Caranya?
Ada dua bentuk komunikasi yang dipake dalam memberikan kobal (kita pake istilah ini aja deh ya buat melambangkan komunikasi balik, KOmunikasi BALik).
Yang pertama adalah kobal verbal. Kalo kobal verbal tu maksudnya kita menggunakan kata-kata untuk merespon pembicaraan lamong kita (LAwan ngoMONG/sama aja kayak lawan bicara). Inget! Kata lo ya, bukan kalimat berentet-rentet.
Kaya gimana si maksudnya? Yaa maksudnya kata-kata kayak “ooh...”, “hmm.. iya iya”, “oh ya? Keren!” , “he’eh, betul tuh ...”, “masuk akal sob!”, nah kata-kata yang kaya begitu kembangkan sendiri ya, hehe. Dan jangan lupa masukin si bahasa tubuh pas kita lagi melakukan kobal verbal (penting banget tuh).
Yang kedua Kobal Non-verbal. Nah, kobal ini sebenernya hampir sama aja kayak si bahasa tubuh si. Ini saya jelaskan.
Jadi, mengerutkan dahi, kedipan mata, gerak tangan ketika mendengarkan orang lain yang sedang berbicara kepada kita, gerakan bibir dsb itu sebenernya merupakan bentuk komunikasi! Misalnya, ketika orang sedang berbicara tentang hal-hal yang lucu kepada kita, lalu kita ikut tersenyum geli sambil agak memundurkan badan ke belakang misalnya, itu merupakan bentuk komunikasi yang kita sampaikan ke si lamong. Kita berkomunikasi ke lamong, memberitahu dia bahwa kita mengerti dan menerima pembicaraanya yang lucu dan menggelikan. Ketika si lamong tau bahwa kita menerima omongannya, maka yang terjadi adalah suasana positif dan akan membuat nyaman antara satu orang dengan lawan bicaranya.
Ada beberapa poin yang harus saya perinci lagi supaya Anda dapat mengetahui dan mempelajarinya dengan baik, cekidot
1. Ekspresi wajah: mikrokinetik-kesesuaian antara mata, bibir, hidung, kerut dahi, alis
Kenapa disebut MIKRO? Mikro itu kan artinya kecil, jadi bahasa anggota tubuh yang berukuran kecil gampangannya mah, hehe. Untuk menunjukkan sikap antusias, jangan sekali-kali kita memperlihatkan kerutan dahi kita. Tapi perlihatkan mata ceria yang diiringi dengan senyuman bahwa kita terkesan dengan omongannya. Pokoknya, perhatikan gerak-gerik anggota tubuh ini, karena gerak-gerik mereka bisa menjadi sangat bermakna di hadapan beberapa orang.
2. Perilaku tubuh: makrokinetik, gerakan tubuh-tangan-kaki-sikap tubuh
Kenapa disebut MAKRO? Yap! Karena ukuran anggota tubuh ini besar gampangannya. Perhatikan poin yang ini. Selalu perlihatkan gerak-gerak positif yang mengisyaratkan kepada si Lamong bahwa pembicaraannya menarik dan kita antusias terhadapnya. Misalnya ketika lamong berbicara tentang pengalaman suksesnya, perhatikan dengan ekspresi muka yang seakan-akan ingin mengetahui kelanjutan setiap dari yang diceritakannya. Diikuti dengan genggaman antara tangan kanan dan tangan kiri, misalnya.
Pokoknya, perhatikan si MIKRO sama MAKRO ini. Usahakan mereka selalu kerjasama ketika anda berbicara dengan lamong, khususnya lamong-lamong yang sangat anda hargai.
3. Perilaku yg berhubungan dengan suara: intonasi suara
Perhatikan juga intonasi suara. Kalo mau nyeletuk (kobal verbal) boleh, tapi nadanya harus diatur supaya terdengar enak di kuping si lamong. Kayak misalnya mau nyeletuk “oh ya?” hati-hati. Kata-kata “oh ya” kalo ga jago ngatur intonasinya, bisa jadi kayak sebuah ejekan bahwa apa yang kita denger kayak sesuatu yang kurang meyakinkan.
4. Penampilan secara umum
Penampilan secara umum lebih ke desain eksterior anda ketika mau melakukan sebuah perbicangan. Tentunya kostum yang anda gunakan itu sebagai bentuk komunikasi non verbal yang menyatakan bahwa “nih, saya udah siap mendengarkan” kepada si lamong. Jadi, adalah tindakan yang benar ketika anda memperhatikan penampilan ketika hendak melakukan perbincangan kepada orang-orang tertentu.
5. Kemampuan berempati
Apa itu kemampuan berempati? Empati adalah kemampuan menempatkan diri dalam pikiran dan perasaan lawan bicara. Ato gampangnya, kemampuan untuk bisa merasakan apa yang sedang lamong pikirkan dan rasakan ketika berbicara suatu hal kepada kita.
Jadi ibaratnya kita bisa rasakan apa yang lamong sedang rasakan, ketika dia berbicara tentang hal yang menyedihkan, kita harus bisa memahami dan mengerti perasaannya, memposisikan diri seolah-olah kita ada di pihak dia. Sehingga kita bisa merasakan dan masuk kedalam pikirannya. Kalo udah begitu, maka kobal yang akan kita lontarkan (baik yang verbal dan nonverbal) pasti akan matching alias nyambung, jadi enak gitu ngobrolnya. Dan yang paling penting, si lamong merasa bahwa dia benar-benar diperhatikan ucapan-ucapannya.
Kalo diringkes-ringkes, mungkin jadinya begini :
· Tunjukkan bahwa anda tertarik pada apa yang dikemukakan (dipikir dan dirasa)
· Bersikap hangat-suportif-empatik
· Nada bicara suara atau bicaranya tidak menakutkan/mengecam
· Memperhatikan komunikasi verbal-non verbal
· Merefleksikan
Ada beberapa hal yang haram dilakuin ketika lagi menjadi pendengar nih sob :
- Mendengar sambil menulis atau sambil disambi kegiatan-kegiatan yang mengisyaratkan kalo kita kurang tertarik dengan apa yang di bicarakan si lamong
- Mendengar dgn pandangan menerawang/ngeliatin orang tapi kayak lagi bengong, ga fokus
- Mendengar dengan pandangan menjelajah kemana-mana, kalo kaya gitu kayak orang ga pede, yang ngomong juga bakalan bete dah
- Cenderung memperhatikan penampilan daripada memperhatikan isi pembicaraan
- Mendengar dengan pikiran tertutup alias asal denger aja, nantinya kalo kaya gini bisa menjadi kurang empati
- Mendengarkan yang menuntut fakta
- Kelihatan tidak sabar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar